Fajarnews.com

Hulu Migas Untuk Negeri

Feature

Maju Berkat Lembu

-
-

Sejak dulu, Desa Kota Baru di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Prov. Jambi, dikenal sebagai desa lembu. Bagi banyak warga, beternak lembu atau sapi adalah mata pencaharian utama. Namun, selama bertahun-tahun, warga beternak dengan cara tradisional. Kelangsungan usaha ternak hanya mengandalkan bibit sapi yang mereka dapat turun temurun. Perawatannya pun dilakukan seadanya. Tak heran, meskipun rumput makanan sapi cukup berlimpah di sekitar Desa Kota Baru, peternakan milik warga setempat tak terlalu berkembang.

 

Peternakan warga membaik ketika PetroChina International Jabung Limited memulai program tanggung jawab sosialnya di desa ini tahun 2003. PetroChina merupakan salah satu kontraktor Kontrak Kerja Sama (Kontraktor KKS) yang mengoperasikan proyek hulu migas milik pemerintah Republik Indonesia. Dalam melakukan kegiatannya, PetroChina bekerja di bawah pengawasan SKK Migas.

Sebagai langkah awal, PetroChina menyerahkan 80 bibit sapi unggul kepada para peternak. Masing-masing peternak yang terpilih menerima tiga ekor sapi dengan sejumlah persyaratan. Para penerima bibit sapi harus memelihara dan membiakkan sapi bantuan menjadi induk sapi yang berkualitas dengan bantuan Dinas Peternakan, tim CSR PetroChina, dan dokter hewan terlatih. Anak-anak sapi yang dihasilkan dari bibit unggul itu harus diberikan kepada keluarga peternak lain yang belum mendapat bantuan. Setelah kewajiban itu terlaksana, tiga ekor sapi induk yang diberikan PetroChina sebelumnya sah menjadi milik si peternak. Begitu seterusnya.

 

Jika ada sapi yang mati, peternak harus membuat berita acaranya dengan disaksikan oleh wakil dari Dinas Peternakan, PetroChina dan pemimpin setempat atau kepala desa. “Pelaporan itu dilakukan untuk mempertinggi rasa tanggung jawab penerima bantuan, sekaligus untuk memacu semangat si peternak, karena sukses tidaknya usaha peternakan itu sangat tergantung kepada si peternak itu sendiri. Selain itu, sebagai pelaksana program, kami juga memerlukan pelaporan tersebut sebagai bagian dari pertanggungjawaban kami, “ ujar Yulian, Community Development Coordinator PetroChina International Jabung Ltd. Ternak yang mati biasanya diganti oleh perusahaan dengan sapi baru.

 

Biasanya, kematian ternak terjadi akibat penyakit yang terlambat ditangani. Untuk mencegahnya, PetroChina bekerja sama dengan Dinas Peternakan dan pemimpin setempat menyediakan tenaga pendamping untuk memberikan pelatihan dan membantu para peternak. Para penyuluh peternakan datang teratur untuk melakukan pendampingan sekaligus memeriksa kondisi kesehatan sapi-sapi yang diternakkan.

 

Selain mendapat pendampingan, para peternak juga mendapat banyak informasi baru tentang cara beternak sapi, salah satunya melalui inseminasi buatan. Melalui program community development PetroChina, para peternak sapi menyadari ada cara baru untuk menghasilkan sapi yang lebih baik keturunannya, lebih besar dan lebih tahan penyakit. Mereka meninggalkan cara lama dan mau belajar cara baru melalui bimbingan para penyuluh.

 

Program “sapi bergulir” ini cukup berhasil. Bermula dari 80 ekor sapi pada tahun 2003, jumlah ternak sapi di Desa Kota Baru kini telah mencapai 487 ekor. Lewat program ini, warga desa berhasil memperbaiki kesejahteraan hidup mereka. “Kemajuan mereka berarti kemajuan daerah Kota Baru,” ujar Suparwanto, Kepala Desa Kota Baru

 

Karena dinilai sukses meningkatkan kesejahteraan masyarakat, PetroChina kemudian memberlakukan program serupa ke daerah-daerah lain yang memiliki potensi peternakan. Secara keseluruhan, PetroChina memberikan bantuan 826 ekor sapi kepada peternak di beberapa daerah di Provinsi Jambi.

Tidak hanya memberi bantuan sapi, PetroChina juga memberikan bantuan peralatan biogas untuk menambah manfaat ternak sapi. Alat tersebut berfungsi menghasilkan gas metan dari kotoran ternak. Gas metan adalah salah satu bahan bakar alternatif pengganti minyak tanah. Ir. Rajito, Kepala Dinas Peternakan Tanjung Jabung Timur, Jambi, berkata peralatan biogas ini memiliki manfaat yang tidak kalah penting bagi masyarakat setempat. “Selain memiliki nilai tambah ekonomi, program ini membantu petani menyediakan energi alternatif untuk kebutuhan memasak rumah tangganya,” kata Rajito.

 

Meski bersumber dari kotoran ternak, Rajito menjamin api yang dihasilkan dari biogas tidak menimbulkan bau dan tidak mengotori lingkungan. Proses memasak pun jadi lebih cepat. Dari penghitungan yang dilakukan, para peternak bisa menghemat konsumsi dua liter minyak tanah per hari.

 

Tak hanya bermanfaat sebagai sumber energi alternatif, kotoran sapi juga bisa digunakan sebagai pupuk organik. “Selain gas metan, sapi juga menghasilkan kotoran dalam bentuk padat dan cair. Kita menyebutnya pupuk organik, untuk tanaman sayuran,” tambah Rajito. Reaktor biogas mampu menghasilkan pupuk kompos sebanyak 400 kilogram per bulan. Bila harga jual kompos Rp 500 per kg maka akan diperoleh tambahan pendapatan sejumlah Rp 200.000 per bulan. Total, penggunaan biogas dari kotoran sapi bisa menghasilkan Rp 440.000 per bulan. Sebuah angka penghematan yang cukup signifikan.Sejak uji coba alat biogas, PetroChina hingga saat ini telah memberikan bantuan 80 unit biogas. Penyaluran alat dijadikan satu paket dengan bantuan sapi.

 

Sejak 2013 program pengembangan sapi PetroChina menggunakan sistem koloni, di mana pengembangbiayakan dilakukan dalam satu lokasi, dan dipelihara secara bersama-sama oleh beberapa peternak. Pola baru ini dilakukan bekerja sama dengan Universitas Jambi dan berkoordinasi dengan Dinas Peternakan.