Fajarnews.com

Hulu Migas Untuk Negeri

Feature

Program Air Bersih di Desa Banyusangka

-
-

TUMAR  tidak bisa menyembunyikan kegundahannya. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi keluarganya, warga Desa Banyusangka ini harus membelinya dari pedagang atau berjalan kaki dengan jarak jauh untuk mencapai sumber mata air.

Tumar tidak sendirian. Kegundahan Tumar juga dirasakan seluruh penduduk Banyusangka. Sumur yang ada di desanya semakin tidak layak dikonsumsi. Air yang tadinya tawar menjadi asam bahkan asin. Saat musim hujan dia lebih beruntung, karena kebutuhan air bisa dipenuhi dengan menadah air hujan,  tapi itupun dengan kualitas air yang diragukan.

Meski ia  tidak pernah membaca, bagi manusia, 73% zat pembentuk tubuh terdiri dari air, tetapi Tumar paham air memegang peranan yang sangat penting bagi mahkluk hidup, termasuk tubuhnya.

Sayangnya kualitas air semakin hari semakin menurun, akibat kegiatan pertanian, industri dan limbah rumah tangga yang tidak dikelola dengan baik. Belum lagi kondisi alam  di daerah pesisir yang memang minim sumber air bersih, seperti di Desa Banyusangka.

Konsumsi air yang tidak layak menjadi pemicu timbulkan penyakit yang dapat mengancam jiwa, misalnya diare. Di Indonesia penyakit ini menduduki tempat kedua sebagai penyebab kematian pada anak-anak di bawah umur lima tahun.

Menyadari kondisi tersebut, PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) melaksanakan program penyediaan fasilitas air bersih di Desa Banyusangka, Kecamatan Tanjungbumi, Kabupaten Bangkalan yang diresmikan pada 13 November 2014 oleh PLT Kepala SKK Migas Johanes Widjonarko.

Fasilitas air bersih yang disediakan berupa sumur bor, tandon penampungan air serta pipa untuk titik-titik penyaluran air seperti di  pasar dan masjid. Fasilitas air bersih ini diharapkan mampu meringankan beban 1.367 kepala keluarga (KK) yang selama ini kesulitan mendapatkan air bersih akibat perubahan rasa air sumur warga.

Tak pelak, bantuan fasilitas air bersih itu disambut suka cita oleh penduduk Banyusangka.  Bantuan ini mereka rasakan sangat meringankan beban warga desa.

"Air di desa kami saat ini berubah rasanya dari tawar menjadi asam bahkan asin, sehingga warga harus membeli air kemasan untuk memasak. Semoga dalam waktu dekat, air bersih itu bisa disalurkan langsung ke rumah warga melalui program pipanisasi,” kata Kepala Desa Banyusangka Bpk H. Abdul Syukur.

Pada enam bulan pertama, air bersih itu akan digratiskan, dan bisa diambil di titik-titik penampungan, semisal di pusat kegiatan warga yakni pasar dan masjid. Setelah periode waktu tersebut, Perangkat Desa akan membentuk HIPAM (Himpunan Pengelola dan Pengguna Air Minum) sekaligus menarik warga menjadi anggota untuk bersama-sama merawat dan memanfaatkan fasilitas air bersih tersebut.

Uniknya, pelanggan air bersih ini bisa membayar dengan menggunakan hasil bumi seperti singkong, ubi, atau buah-buahan.

East Area HR & Comdev Team Leader PHE WMO Ulika Trijoga Putrawardana (East Area HR & Comdev Team Leader PHE WMO) menyampaikan, sebelum memberi bantuan ke Desa Banyusangka, PHE WMO  telah memberi bantuan fasilitas air bersih untuk Desa Macajah dan Bandangdajah yang juga ada di  Kecamatan Tanjungbumi.

"PHE WMO membantu seluruh pembiayaan pencarian air hingga pipanisasi, tapi setelah itu masyarakat yang akan mengelola dengan membentuk himpunan masyarakat pengguna air bersih. Jadi tujuannya benar-benar untuk pemberdayaan masyarakat,” jelas Ulika.

Saat ini, satu bulan setelah peresmian, sudah hampir 500 warga desa yang menjadi pelanggan air bersih tersebut. Sejak fasilitas air bersih ini beroperasi, bukan hanya wajah Tumar kembali ceria. Penduduk  Desa Banyusangka juga merasakan kebahagian karena bisa kembali menikmati air bersih dengan mudah.