Fajarnews.com

Hulu Migas Untuk Negeri

Feature

Pelepas Dahaga Dari Pertamina EP CEPU

-
-

Bojonegoro - Kemarau panjang di tahun 2014 kali ini cukup berat dirasakan masyarakat di Bojonegoro. Hujan yang tak jua datang untuk menbasahi permukaan bumi Bojonegoro hingga hampir ahir tahun ini berdampak pada sulitnya warga mendapatkan air bersih untuk penopang kebutuhan minum dan konsumsi lainya. Setiap harinya, masyarakat dihantui akan rasa takut tiadanya air bersih untuk keperluan rumah tangga mereka.

Demikianlah Supiatun (54), warga Desa Kuniran, Kecamatan Purwosarai, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur ini harus menjalani hari demi hari serba kekurangan air selama musim kemarau ini. Mencari air hingga berkilo-kilo meter jarak dari desanya. Padahal, seperti juga rumah tangga pada umumnya, setiap sehari Supiatun dan keluarganya membutuhkan air bersih guna memasak serta keperluan rumah tangga lainya. Jadi, dalam musim apapun, baik musim kemarau maupun penghujan, air merupkan kebutuhan utama yang harus tersedia setiap saat. “Kemarau kali ini membuat berat kami sekeluarga, kami harus mencari air bersih ketempat yang jauh dan jalanan yang sulit.” ungkap Supiatun.

Musim kemarau tahun ini menyebabkan bencana kekeringan dan dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) oleh Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Bupati Bojonegoro, Suyoto, pada Oktober 2014 telah menetapkan, bahwa darurat kekeringan tahun 2014 sebagai Kejadian Luar Biasa, untuk itu, masyarakat dihimbau untuk bisa menyikapi ini dengan penuh perhatian. Kekeringan di Bojonegoro sendiri terus meluas seiring waktu berjalan. Hujan yang diperkirakan akan turun masih jauh. Yudi Hendro, dari BPPD kabupaten Bojonegoro yang turut menangani dampak kekeringan ini mengatakan, di Bojonegoro saat ini ada 16 kecamatan, 53 desa yang saat ini mengalami kekeringan. “Setiap hari masyarakat memerlukan droping air bersih untuk kebutuhan konsumsinya. Sementara dari pemerintah sendiri mengalami keterbatasan sumber daya untuk itu mengingat luasnya cakupan wilayah yang terdampak kekeringan kali ini.” tambah Yudi.

Menyikapi keadaan darurat tersebut, PT. Pertamina EP Cepu sebagai perusahaan yang memiliki komitmen tinggi terhadap kondisi lingkungan dan sekitarnya langsung mengambil tidakan taktis dan strategis. Tidakan tersebut bertujuan untuk meringankan atau mengurangi dampak yang lebih parah dari keadaan darurat kekeringan di wilayah Bojonegoro. Dampak yang tentu paling dirisaukan ialah dampak kemanusiaan, mengingat kebutuhan akan air menjadi sebuah keharusan bagi manusia. Sehingga ketiadaan air ditenggah darurat kekeringan dapat menyebabkan ancaman yang serius bagi masyarakat.

 

PT. Pertamina EP Cepu, bergerak cepat disaat yang tepat sebelum keadaan menjadi lebih buruk. Pada ahir Oktober 2014, PEPC (Pertamina EP Cepu) langsung melakukan droping air bersih di beberapa wilayah kecamatan yang dinyatakan terdampak darurat kekeringan. Ribuan liter air di gelontorkan kepada warga-warga desa di wilayah kekeringan. Ratusan warga yang secara bergilirpun mengantri pembagian air bersih ini dengan penuh antusias dan kegembiraan. Dari rumah mereka masing-masing, segala perkakas yang dapat dipergunakan menampung air dibawa. Mulai dari peralatan ember, jirigen, botol besar hingga kendi besar mereka siapkan di antrian tempat pembagiaan air.

Mereka kini (untuk sementara) tak harus menempuh perjalanan jauh untuk mencari air, mereka juga tidak perlu bersusah payah mendapatkan air di medan sulit seperti gua karst yang berliku dan terjal. Kini, di tengah-tengah desa PT. Pertamina EP Cepu melalui program Corporate Social Responsibility-nya hadir memenuhi kebutuhan pokok masyarakat akan air bersih. Laksana oasis ditengah hamparan kekeringan nan kerontang, PEPC memenuhi kebutuhan dahaga masyarakat disaat yang telah dinantikanya.

Dan ahirnya teriknya siang di Bojonegoro kali ini tak membuat Supiatun serta ratusan Supiatun yang lainya terasa tersengat seperti biasa, lantaran ditempatnya mereka terguyur air bersih partisipasi PT. Pertamina EP Cepu yang perduli dan merasa ikut bertanggung jawab terhadap keberlangsungan lingkungan sosialnya. Dan kali ini, PEPC menghilangan rasa takut masyarakat akan kebutuhan airnya yang selama musim kemarau ini kerap menghantuinya. *PEPC