Fajarnews.com

Hulu Migas Untuk Negeri

Feature

EEES Terangi DesaTerpencil

-
-

Listrik kini menjadi syarat pokok terjadinya kemajuan suatu wilayah dan masyarakatnya. Sumber energy mampu menunjang berbagai aktifitas masyarakat, mulai dari peningkatan pendidikan, kebutuhan telekomunikasi, hingga menunjang peningkatan ekonomi yang tujuannya adalah tercapainya kesejahteraan. Masih banyak wilayah Indonesia yang belum terakses listrik. Bahkan sekitar 30% masyarakat Indonesia yang belum dapat mengakses listrik.

Keadaan ini menjadi pendorong bagi Energy Equity Epic (Sengkang) Pty. Ltd (EEES) untuk melakukan program tanggung jawab sosial (Corporate Social Responsibility) berupa penyediaan listrik tenaga surya di Dusun Loae Desa Maminasae Kecamatan Gilireng Sulawesi Selatan pada tahun 2011 dan Desa Alausalo Kecamatan Gilireng pada tahun 2012 dan Desa Lamata tahun 2013.

Pemasangan listrik tenaga surya diarea tersebut dikarenakan lokasi tersebut belum memungkinkan untuk pemasangan listrik karena sangat terpencil, jarak yang jauh dan jumlah rumah yang sedikit, berdasarkan informasi PLN. Kondisi ini menjadi tantangan bagi pemangku kepentingan untuk menyediakan listrik bagi desa desa ini.

Bantuan program listrik tenaga surya (solar cell) diberikan kepada 25 rumah tangga di Desa Mamminasae, 32 rumah tangga di Desa Alausalo di Kecamatan Gilireng dan 30 rumah tangga di Desa Lamata.

Kepala Desa Mamminasae, Mattupuang, mengatakan, warganya sangat berterimakasih dengan adanya bantuan tersebut. “Sejak jaman nenek moyang, kami belum pernah menikmati fasilitas listrik. Saya sepertinya tidak percaya kalau warga bisa menikmati penerangan listrik di Dusun Lowaeini,” katanya.

-
-

Pada awalnya EEES melakukan studi bantuan penerangan listrik yang akan diberikan kepada masyarakat dalam bentuk pengadaan genset berbahan bakar minyak. Namun ternyata ada kendala seperti biaya akan lebih mahal baik penggunaan bahan bakar, biaya operasional, biaya pemasangan, biaya pemeliharaan, emisi genset kurang ramah lingkungan karena menimbulkan gas rumah kaca.

Selain itu kondisi jarak antar rumah yang cukup berjauhan, sehingga sulit menetapkan lokasi dan distribusi.SDM untuk melakukan pemeliharaan dan organisasi manajemen operasional tidak tersedia mengingat masyarakat setempat adalah dengan latar belakangan pendidikan minim dan mata pencaharian pembajak sawah/kebun, serta kondisi ekonomi masyarakat yang kurang mampu, jika kemudian harus menanggung biaya - biaya pengadaan listrik.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, EEES memilih alternative pengadaan listrik dengan menggunakan pembangkit listrik tenaga surya (solar cell). Listrik tenaga surya lebih fleksibel untuk dipasang dilokasi yang berjauhan dan lebih ramah lingkungan.

Pemasangan listrik tenaga surya di rumah – rumah ini diikuti dengan kegiatan sosialisasi cara perawatan dan pemeliharaan sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal.

“Hingga Desember 2013, telah terdapat 87 rumah tangga yang memiliki penerangan listrik yang berasal dari energy terbarukan ini. Program ini dinilai baik oleh warga maupun pemerintah setempat. Sebagai bentuk apresiasi pemerintah Kabupaten Wajo, WakilBupatiberkesempatanmeninjaulokasipemasanganlistriktenagasurya di damping Perwakilan dari BPMIGAS Kalsul (kini SKKMIGAS Kalsul) padatanggal 22 Februari 2012.

Penggunaan listrik tenaga surya ini pada umumnya adalah untuk keperluan penerangan dalam rumah dan menghidupkan peralatan listrik lain berdaya kecil. Kini dusun - dusun di Gilireng tidak lagi kelam di waktu malam dan anak – anak usia sekolah tetap bisa belajar dengan lampu LED yang terpasang di rumahnya.

Dengan adanya bantuan tersebut, terdapat peningkatan kualitas social masyarakat karena warga dapat melakukan aktifitas kehidupan di malamhari. Misalnya makan malam bersama atau pun aktivitas social dengan tetangga, acara – acara social lainnya. Sumber energy ini juga mampu menunjang peningkatan - pendidikan, kebutuhan telekomunikasi, menunjang efisiensi energy dan waktu dan menunjang peningkatan ekonomi.